Gangguan Berbahasa Latah
GANGGUAN LATAH
TATI KARYATI
(A1D117038)
tatikaryati864@gmail.com
kata kunci : latah, gangguan latah
I. Pendahuluan
Komunikasi verbal merupakan suatu aspek penting dalam berinteraksi sebagai makhluk sosial. Komunikasi diperlukan untuk menyampaikan pendapat, pikiran, ide dan gagasan. Namun, apabila komunikasi tersebut mengalami gangguan berkomunikasi. Maka, akan terhambatnya komunikasi tersebut. Seperti, tidak tersampaikannya pendapat, pikiran, ide maupun gagasan secara maksimal. Bahkan, dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam mengartikan.
Salah satu gangguan komunikasi yang sering dijumpai adalah latah. Dimana latah merupakan suatu ekspresi terkejut akibat adanya suatu gerakan secara tiba-tiba dan diikuti dengan meniru gerakan (Echophraxia) dan kata-kata (Echolalia) orang lain secara spontan dan berulang-ulang diluar kendai diri. Fenmena latah masih menjadi topik pembicaraan diberbagai bidang ilmu bahasa, psikoohi dan kedokteran. Chaer (2009:152:23) mengatakan bahwa gangguan berbicara psikogenik adalah variasi cara berbicara yang norma, yang merupakan ungkapan dari gangguan dibidang metal. Misalnya, adanya tekanan keinginan-keinginan tertentu atau adanya rasa takut terhadap sesuatu yang kemudian mengganggu mental.
Latah sering disamakan dengan ekolalia, yaitu perbuatan membeo atau menirukan apa yang dilakukan orang lain. Tetapi, sebenarnya latah merupakan suatu sindrom yang bersifat jorok dan gangguan lokomotorik yang dapat dipancing. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, latah mempunyai arti:
Menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain.
Berkelakuan seperti orang gila, misalnya; karena kehilangan orang yang dicintai.
Meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain.
Mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh, jorok, berkenaan dengan kelamin.
II. Pembahasan
“Latah adalah suatu tindak kebahasaan pada waktu seseorang terkejut atau dikejutkan, tanpa sengaja mengeluarkan kata-kata secara spontan dan tidak sadar dengan apa yang diucapkannya”, (Soenjono Dardjowidjojo, 2003 : 154).Menurut Dardjowidjojo (2005:154) latah adalah suatu tindak kebahasaan dimana seseorang, waktu terkejut atau dikejutkan, mengeluarkan kata-kata secara spontan dan tidak sadar dengan apa yang dia katakan. Menurut Dardjowidjojo (2005:154), latah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) latah hanya terdapat di Asia Tenggara, sehingga akan menjadi ha aneh bagi orang diuar Asia Tenggara, terutana orang dibelahan Eropa; (2) pelakunya hampir selalu wanita; (3)kata-kata yang dikeluarkan umumnya berkaitan dengan seks atau alat kelamin pria atau jantan; dan (4) kalau kejutannya berupa kata, orang yang latah juga bisa hanya mengulang kata yang telah disebutkan.
Secara umum, ada empat jenis latah, antara lain: (1) ekolalia, yaitu latah dengan mengulangi perkataan orang lain. Contoh: jika orang yang berada di dekat penderita mengagetkannya dengan menyebutkan kata copot, maka penderita latah secara spontan akan mengulangi kata tersebut berulang-ulang; (2) ekopraksia, yaitu latah dalam bentuk meniru gerakan orang lain. Contohnya, orang latah ketika melihat orang lain bertingkah laku yang menarik perhatiannya, seperti menganggukkan kepala, secara spontan ia akan meniru menganggukkkan kepala secara berulang-ulang; (3) koprolalia, yaitu latah dengan mengucapkan kata-kata tabu atau kotor. Artinya, ketika ada seseorang yang mengagetkannya, secara spontanitas penderita latah akan mengeluarkan kata-kata tabu atau kotor secara berulang-ulang; dan (4) automatic obedience, yaitu melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut. Misalnya, ketika penderita dikejutkan dengan seruan perintah seperti ”sujud” atau ”peluk”, ia akan segera melakukan perintah itu.
Satuan Lingual Latah Berupa Kata
Satuan Lingual Latah Berupa Kata yaitu Kata adalah satuan bahasa yang mempunyai makna. Kridalaksana (1993:98) mengungkapkan bahwa kata adalah morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan teks terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas.
Bentuk Lingual Latah Berupa Kata Perilaku Latah Koprolalia.
Bentuk Lingual Latah Berupa Kata Perilaku Latah Ekolalia.
Bentuk Lingual Latah Berupa Kata Perilaku Latah Auto Ekolalia.
Satuan Lingual Latah Berupa Kalimat.
Sesungguhnya cara menentukan kalimat bukan dari banyaknya kata melainkan intonasinya. Kalimat yang dimaksud dalam hal ini adalah kalimat yang dimunculkan secara spontan dan dengan intonasi tinggi orang yang mempunyai perilaku latah. Bentuk lingual kalimat yang dimunculkan orang di desa tersebut ada yang berupa proses pengulangan kalimat yang diucapkan orang lain dan pengulangan kalimat yang diucapkan sendiri.
Bentuk Lingual Latah Berupa Kalimat Perilaku Latah Koprolalia.
Bentuk Lingual Latah Berupa Kalimat Perilaku Latah Ekolalia.
Bentuk Lingual Latah Berupa Kalimat Perilaku Latah Auto Ekolalia.
Bentuk Lingual Latah Berupa Kalimat Perilaku Latah Automatic Obidience.
III. Penyebab
Komunikasi yang terganggu tidak terepas dari adanya gangguan didalam diri seseorang. Gangguan komunikasi biasanya dialami pada masa anak-anak, tetapi seiring bertambahnya usia dan ketrampilan berbahasa, gangguan kefasihan tersebut bisa hilang. Namun demikian, gangguan tersebut bisa saja bertahan hingga dewasa karena tidak ada penanganan dan terapi yang memadai sehingga dapat menghambat proses interaksi sosialnya. Berbicara latah merupakan salah satu gangguan kefasihan berbicara psikogenik. Selain itu, gangguan komunikasi terutama latah biasanya dialami oleh sebagian besar wanita. Angka latah menunjukkan lebih tinggi dialami oleh wanita dibandingkan laki-laki. Perempuan dengan rentang usia 20—30 tahun memiliki kemungkinan besar menderita penyakit latah. Dipilih perempuan pada rentang usia tersebut dengan alasan bahwa pada rentang usia tersebut, perempuan tidak lagi mengalami perkembangan fisiologi pada organ ucapnya. Latah yang dialami oeh wanita seperti akibat dari mimpi yang terus menerut yang mengakibatkan latah yang berkenaan dengan mimpi tersebut.
Fenomena latah lebih banyak dialami oleh wanita. Namun, tidak menutup kemungkinan laki-laki tidak mengalmi latah. Nyatanya, ada segelintir laki-laki yang mengalami latah secara terus-menerut saat berada disituasi laki-laki tersebut mengalami terkejut. Misalnya, laki-laki tersebut memiliki ketakutan terhadap suatu benda tertentu. Sehingga, pada saat laki-laki tersebut digaketkan dengan kata-kata yang laki-laki tersebut ditakutinya. Maka laki-laki tersebut akan mengalami kaget dan rasa takut dengan disertai ucapan benda tersebut secara berulang-ulang. Maka dari itu, latah tidak serta merta karena suatu mimpi. Namun, ada faktor lain yang menyebabkan seseorang mengalami latah.
Teori Freud (1987, 2006) dan Jung (1989), yang menyebutkan bahwa peristiwa psikologis yang menahun dan ditahan karena tidak dapat terealisasi dalam kenyataan maka hal tersebut tidak akan pernah hilang. Peristiwa yang diinginkan tersebut tetap akan bertahan dalam diri manusia (baca:otak) yang terus menunggu. Menurut Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa (2003), latah berarti: (1) menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; (2) berkelakuan seperti orang gila, misalnya; karena kehilangan orang yang dicintai; (3) meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain; dan (4) mengeluarkan katakata yang tidak senonoh, jorok, berkenaan dengan kelamin.
Dengan demikian, faktor penyebab latah, yaitu :
Faktor Lingkungan Manusia dan lingkungan sangat berkaitan erat, karena keduanya saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Lingkungan dapat mempengaruhi dan mendorong munculnya perilaku pada manusia, dan sebaliknya perilaku manusia juga dapat merubah lingkungannya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Gerungan (2004:62) yang menyatakan bahwa faktor yang mendasari manusia berinteraksi dalam lingkungan ada empat, yaitu: (1) imitasi adalah adanya minat dan perhatian yang cukup tinggi pada diri individu untuk menirukan individu yang lainnya agar mendapatkan penghargaan sosial dalam lingkungan tertentu, (2) sugesti adalah individu yang memberikan pandangan atau sikap agar individu yang lain menerimanya, (3) identifikasi adalah dorongan agar individu yang lain mudah mengenali dengan adanya sesuatu yang berbeda, (4) simpati adalah sesuatu yang timbul karena adanya perasaan bukan karena dasar logis rasional, karena simpati merupakan perasaan, dengan begitu simpati merupakan ketertarikan pada individu untuk meniru cara bertingkah laku baik bertingkah laku positif maupun negatif.
Faktor Mimpi Perilaku latah yang terjadi pada beberapa warga di Desa Jatigono, Kecamatan Kunir, Kabupaten Lumajang tersebut menurut beberapa informan diakibatkan oleh faktor mimpi. Manurut informan awal mula ia menjadi latah mereka bermimpi melihat alat kelamin jantan manusia yang sangat besar dan dipaksa masuk ke kemaluannya, mereka sangat terkejut dan ketika terbangun mereka menjadi latah (Pamungkas, 1998:18). Sebagian orang latah juga menyebutkan bahwa latah muncul karena adanya dorongan seksual yang tidak tersalurkan. Hal tersebut benar mengingat ditemukannya beberapa kasus bahwa seorang sebelum menjadi latah, sebelumnya orang tersebut memimpikan sesuatu yang berkaitan dengan masalah seksual.
IV. Sousi
Selalu berpikir positif terhadap apapun, mengurangi rasa ketakutan dan kecemasan terhadap sesuatu, tidak memikirkan sesuatu ha secara terus menerut. Upaya-upaya yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiiki gangguan atah, antara lain memakan jangkrik, melakukan shock therapy setiap hari Jum’at, bersikap judes supaya tidak diganggu, menggigit lidah agar tidak mudah latah, mengikuti terapi FGD, disiram dengan air bekas cucian perabot rumah tangga, meminum air yang sudah dijampi-jampi ataupun di do’a-do’a. Adapun upaya-upaya yang dilakukan tidak membuahkan hasil dalam mengatasi perilaku latah, disebabkan karena selain ada kecenderungan mempertahankan perilaku latahnya untuk mendapat perhatian, lingkungan juga kurang mendukung kesembuhan subyek, di samping itu juga disebabkan ketidak tahuan subyek mengenai cara penanganan yang benar yaitu dengan berkonsultasi kepada dokter atau ahli jiwa. Solusi lain yaitu jangan mengagetkan orang yang latah karena ha tersebut akan memperburuk seseorang dalam latah. Dengan tidak mengagetkan orang yang latah maka akan membantu orang tersebut mengurangi gangguan latah.
Daftar Pustaka
Pamungkas, Sri, dkk. 2017. Menafsir Perilaku Latah Coprolalia pada Perempuan Latah dalam Lingkup Budaya Mataraman : Sebuah Kajian Sosiopsikolinguistik. Surakarta : Universitas Sebelas Maret.
Hariyanto, Bambang, dkk. 2014. PERILAKU BERBAHASA LATAH WARGA DESA JATIGONO KECAMATAN KUNIR KABUPATEN LUMAJANG SEBUAH KAJIAN PSIKOLINGUISTIK. Jember : PUBLIKA BUDAYA.
Kusumawati. 2009. GANGGUAN LATAH (Studi Tentang Faktor Penyebab dan Kondisi Psikologi).
Prihartomo, Wawan. 2018. IDENTIFIKASI TUTURAN LATAH: PENDEKATAN FONETIK AKUSTIK. Jakarta : Pusat Pengembangan dan Perilndungan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
TATI KARYATI
(A1D117038)
tatikaryati864@gmail.com
kata kunci : latah, gangguan latah
I. Pendahuluan
Komunikasi verbal merupakan suatu aspek penting dalam berinteraksi sebagai makhluk sosial. Komunikasi diperlukan untuk menyampaikan pendapat, pikiran, ide dan gagasan. Namun, apabila komunikasi tersebut mengalami gangguan berkomunikasi. Maka, akan terhambatnya komunikasi tersebut. Seperti, tidak tersampaikannya pendapat, pikiran, ide maupun gagasan secara maksimal. Bahkan, dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam mengartikan.
Salah satu gangguan komunikasi yang sering dijumpai adalah latah. Dimana latah merupakan suatu ekspresi terkejut akibat adanya suatu gerakan secara tiba-tiba dan diikuti dengan meniru gerakan (Echophraxia) dan kata-kata (Echolalia) orang lain secara spontan dan berulang-ulang diluar kendai diri. Fenmena latah masih menjadi topik pembicaraan diberbagai bidang ilmu bahasa, psikoohi dan kedokteran. Chaer (2009:152:23) mengatakan bahwa gangguan berbicara psikogenik adalah variasi cara berbicara yang norma, yang merupakan ungkapan dari gangguan dibidang metal. Misalnya, adanya tekanan keinginan-keinginan tertentu atau adanya rasa takut terhadap sesuatu yang kemudian mengganggu mental.
Latah sering disamakan dengan ekolalia, yaitu perbuatan membeo atau menirukan apa yang dilakukan orang lain. Tetapi, sebenarnya latah merupakan suatu sindrom yang bersifat jorok dan gangguan lokomotorik yang dapat dipancing. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, latah mempunyai arti:
Menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain.
Berkelakuan seperti orang gila, misalnya; karena kehilangan orang yang dicintai.
Meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain.
Mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh, jorok, berkenaan dengan kelamin.
II. Pembahasan
“Latah adalah suatu tindak kebahasaan pada waktu seseorang terkejut atau dikejutkan, tanpa sengaja mengeluarkan kata-kata secara spontan dan tidak sadar dengan apa yang diucapkannya”, (Soenjono Dardjowidjojo, 2003 : 154).Menurut Dardjowidjojo (2005:154) latah adalah suatu tindak kebahasaan dimana seseorang, waktu terkejut atau dikejutkan, mengeluarkan kata-kata secara spontan dan tidak sadar dengan apa yang dia katakan. Menurut Dardjowidjojo (2005:154), latah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) latah hanya terdapat di Asia Tenggara, sehingga akan menjadi ha aneh bagi orang diuar Asia Tenggara, terutana orang dibelahan Eropa; (2) pelakunya hampir selalu wanita; (3)kata-kata yang dikeluarkan umumnya berkaitan dengan seks atau alat kelamin pria atau jantan; dan (4) kalau kejutannya berupa kata, orang yang latah juga bisa hanya mengulang kata yang telah disebutkan.
Secara umum, ada empat jenis latah, antara lain: (1) ekolalia, yaitu latah dengan mengulangi perkataan orang lain. Contoh: jika orang yang berada di dekat penderita mengagetkannya dengan menyebutkan kata copot, maka penderita latah secara spontan akan mengulangi kata tersebut berulang-ulang; (2) ekopraksia, yaitu latah dalam bentuk meniru gerakan orang lain. Contohnya, orang latah ketika melihat orang lain bertingkah laku yang menarik perhatiannya, seperti menganggukkan kepala, secara spontan ia akan meniru menganggukkkan kepala secara berulang-ulang; (3) koprolalia, yaitu latah dengan mengucapkan kata-kata tabu atau kotor. Artinya, ketika ada seseorang yang mengagetkannya, secara spontanitas penderita latah akan mengeluarkan kata-kata tabu atau kotor secara berulang-ulang; dan (4) automatic obedience, yaitu melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut. Misalnya, ketika penderita dikejutkan dengan seruan perintah seperti ”sujud” atau ”peluk”, ia akan segera melakukan perintah itu.
Satuan Lingual Latah Berupa Kata
Satuan Lingual Latah Berupa Kata yaitu Kata adalah satuan bahasa yang mempunyai makna. Kridalaksana (1993:98) mengungkapkan bahwa kata adalah morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan teks terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas.
Bentuk Lingual Latah Berupa Kata Perilaku Latah Koprolalia.
Bentuk Lingual Latah Berupa Kata Perilaku Latah Ekolalia.
Bentuk Lingual Latah Berupa Kata Perilaku Latah Auto Ekolalia.
Satuan Lingual Latah Berupa Kalimat.
Sesungguhnya cara menentukan kalimat bukan dari banyaknya kata melainkan intonasinya. Kalimat yang dimaksud dalam hal ini adalah kalimat yang dimunculkan secara spontan dan dengan intonasi tinggi orang yang mempunyai perilaku latah. Bentuk lingual kalimat yang dimunculkan orang di desa tersebut ada yang berupa proses pengulangan kalimat yang diucapkan orang lain dan pengulangan kalimat yang diucapkan sendiri.
Bentuk Lingual Latah Berupa Kalimat Perilaku Latah Koprolalia.
Bentuk Lingual Latah Berupa Kalimat Perilaku Latah Ekolalia.
Bentuk Lingual Latah Berupa Kalimat Perilaku Latah Auto Ekolalia.
Bentuk Lingual Latah Berupa Kalimat Perilaku Latah Automatic Obidience.
III. Penyebab
Komunikasi yang terganggu tidak terepas dari adanya gangguan didalam diri seseorang. Gangguan komunikasi biasanya dialami pada masa anak-anak, tetapi seiring bertambahnya usia dan ketrampilan berbahasa, gangguan kefasihan tersebut bisa hilang. Namun demikian, gangguan tersebut bisa saja bertahan hingga dewasa karena tidak ada penanganan dan terapi yang memadai sehingga dapat menghambat proses interaksi sosialnya. Berbicara latah merupakan salah satu gangguan kefasihan berbicara psikogenik. Selain itu, gangguan komunikasi terutama latah biasanya dialami oleh sebagian besar wanita. Angka latah menunjukkan lebih tinggi dialami oleh wanita dibandingkan laki-laki. Perempuan dengan rentang usia 20—30 tahun memiliki kemungkinan besar menderita penyakit latah. Dipilih perempuan pada rentang usia tersebut dengan alasan bahwa pada rentang usia tersebut, perempuan tidak lagi mengalami perkembangan fisiologi pada organ ucapnya. Latah yang dialami oeh wanita seperti akibat dari mimpi yang terus menerut yang mengakibatkan latah yang berkenaan dengan mimpi tersebut.
Fenomena latah lebih banyak dialami oleh wanita. Namun, tidak menutup kemungkinan laki-laki tidak mengalmi latah. Nyatanya, ada segelintir laki-laki yang mengalami latah secara terus-menerut saat berada disituasi laki-laki tersebut mengalami terkejut. Misalnya, laki-laki tersebut memiliki ketakutan terhadap suatu benda tertentu. Sehingga, pada saat laki-laki tersebut digaketkan dengan kata-kata yang laki-laki tersebut ditakutinya. Maka laki-laki tersebut akan mengalami kaget dan rasa takut dengan disertai ucapan benda tersebut secara berulang-ulang. Maka dari itu, latah tidak serta merta karena suatu mimpi. Namun, ada faktor lain yang menyebabkan seseorang mengalami latah.
Teori Freud (1987, 2006) dan Jung (1989), yang menyebutkan bahwa peristiwa psikologis yang menahun dan ditahan karena tidak dapat terealisasi dalam kenyataan maka hal tersebut tidak akan pernah hilang. Peristiwa yang diinginkan tersebut tetap akan bertahan dalam diri manusia (baca:otak) yang terus menunggu. Menurut Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa (2003), latah berarti: (1) menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; (2) berkelakuan seperti orang gila, misalnya; karena kehilangan orang yang dicintai; (3) meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain; dan (4) mengeluarkan katakata yang tidak senonoh, jorok, berkenaan dengan kelamin.
Dengan demikian, faktor penyebab latah, yaitu :
Faktor Lingkungan Manusia dan lingkungan sangat berkaitan erat, karena keduanya saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Lingkungan dapat mempengaruhi dan mendorong munculnya perilaku pada manusia, dan sebaliknya perilaku manusia juga dapat merubah lingkungannya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Gerungan (2004:62) yang menyatakan bahwa faktor yang mendasari manusia berinteraksi dalam lingkungan ada empat, yaitu: (1) imitasi adalah adanya minat dan perhatian yang cukup tinggi pada diri individu untuk menirukan individu yang lainnya agar mendapatkan penghargaan sosial dalam lingkungan tertentu, (2) sugesti adalah individu yang memberikan pandangan atau sikap agar individu yang lain menerimanya, (3) identifikasi adalah dorongan agar individu yang lain mudah mengenali dengan adanya sesuatu yang berbeda, (4) simpati adalah sesuatu yang timbul karena adanya perasaan bukan karena dasar logis rasional, karena simpati merupakan perasaan, dengan begitu simpati merupakan ketertarikan pada individu untuk meniru cara bertingkah laku baik bertingkah laku positif maupun negatif.
Faktor Mimpi Perilaku latah yang terjadi pada beberapa warga di Desa Jatigono, Kecamatan Kunir, Kabupaten Lumajang tersebut menurut beberapa informan diakibatkan oleh faktor mimpi. Manurut informan awal mula ia menjadi latah mereka bermimpi melihat alat kelamin jantan manusia yang sangat besar dan dipaksa masuk ke kemaluannya, mereka sangat terkejut dan ketika terbangun mereka menjadi latah (Pamungkas, 1998:18). Sebagian orang latah juga menyebutkan bahwa latah muncul karena adanya dorongan seksual yang tidak tersalurkan. Hal tersebut benar mengingat ditemukannya beberapa kasus bahwa seorang sebelum menjadi latah, sebelumnya orang tersebut memimpikan sesuatu yang berkaitan dengan masalah seksual.
IV. Sousi
Selalu berpikir positif terhadap apapun, mengurangi rasa ketakutan dan kecemasan terhadap sesuatu, tidak memikirkan sesuatu ha secara terus menerut. Upaya-upaya yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiiki gangguan atah, antara lain memakan jangkrik, melakukan shock therapy setiap hari Jum’at, bersikap judes supaya tidak diganggu, menggigit lidah agar tidak mudah latah, mengikuti terapi FGD, disiram dengan air bekas cucian perabot rumah tangga, meminum air yang sudah dijampi-jampi ataupun di do’a-do’a. Adapun upaya-upaya yang dilakukan tidak membuahkan hasil dalam mengatasi perilaku latah, disebabkan karena selain ada kecenderungan mempertahankan perilaku latahnya untuk mendapat perhatian, lingkungan juga kurang mendukung kesembuhan subyek, di samping itu juga disebabkan ketidak tahuan subyek mengenai cara penanganan yang benar yaitu dengan berkonsultasi kepada dokter atau ahli jiwa. Solusi lain yaitu jangan mengagetkan orang yang latah karena ha tersebut akan memperburuk seseorang dalam latah. Dengan tidak mengagetkan orang yang latah maka akan membantu orang tersebut mengurangi gangguan latah.
Daftar Pustaka
Pamungkas, Sri, dkk. 2017. Menafsir Perilaku Latah Coprolalia pada Perempuan Latah dalam Lingkup Budaya Mataraman : Sebuah Kajian Sosiopsikolinguistik. Surakarta : Universitas Sebelas Maret.
Hariyanto, Bambang, dkk. 2014. PERILAKU BERBAHASA LATAH WARGA DESA JATIGONO KECAMATAN KUNIR KABUPATEN LUMAJANG SEBUAH KAJIAN PSIKOLINGUISTIK. Jember : PUBLIKA BUDAYA.
Kusumawati. 2009. GANGGUAN LATAH (Studi Tentang Faktor Penyebab dan Kondisi Psikologi).
Prihartomo, Wawan. 2018. IDENTIFIKASI TUTURAN LATAH: PENDEKATAN FONETIK AKUSTIK. Jakarta : Pusat Pengembangan dan Perilndungan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Komentar
Posting Komentar